Alsintan Bantuan, Indikasi Pungli Mengarah Korupsi

PARIMO – Aroma tak sedap sinyalemen seleweng bantuan alat mesin pertanian (alsintan) dari pemerintah di Wilayah Selatan Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) semakin menyeruak. Alsintan bantuan berupa mesin panen (Combine Harvester) ditengarai dikuasai pribadi dan pada proses penyaluran dipenuhi indikasi pungutan liar (pungli), ‘raup untung’ mengarah pada perbuatan korupsi.

Himpunan informasi menyebut, pada sejumlah wilayah, proses salurkan bantuan ternyata disinyalir jadi ajang ‘makan’ fulus bagi para pelaku dan pihak merasa berjasa membantu pencairan bantuan.

Dari penuturan sumber, mayoritas memang ditarik uang dengan bahasa ucapan terima kasih hingga biaya proposal, administrasi hingga berbagai bentuk setoran-setoran.

Sumber resmi Koran Indigo menyebut, beberapa alsintan bantuan berupa mesin pemanen combine harvester disinyalir diselewengkan penggunaannya di beberapa tempat Wilayah Selatan Parimo.

Alat bantuan berasal dari Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) maupun Dinas Pertanian Parimo seharusnya diperuntukan bagi kesejahteraan petani, justru ‘dikuasai’ secara pribadi oleh beberapa oknum-oknum dan golongan.

“Di Desa Astina, Kecamatan Torue, ada alat combine harvester bantuan, namun anehnya dimiliki secara pribadi oleh orang bernama I Gusti Mudit. I Gusti Mudit merupakan kerabat dekat dari Kepala Desa Astina. I Gusti Mudit ini tinggal di Torue”, beber sumber, WYA, Selasa, (29/10).

Selain I Gusti Mudit, kata WYA, ada nama Agus Subur bermukim di Desa Purwosari (juga Kecamatan Torue) mengakuisisi alat bantuan serupa. Alsintan berada ditangan Agus Subur merupakan bantuan via Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), sekitar dua tahun lalu.

“Di Desa Purwosari juga ada alat pemanen dipegang oleh Agus Subur anaknya Pak Subur”, katanya.

Desa Tolai (Kecamatan Torue), lanjut WYA, ada satu unit alat pemanen padi bantuan dipegang orang bernama Kadek Somantara. Kata dia, alat panen bantuan dalam genggaman Kadek Somantara, merupakan bantuan berasal dari Dinas Pertanian Parimo.

“Di Desa Tolai ada satu unit alat bantuan dari dinas kabupaten. Alat ini dikelola oleh Kadek Somantara, anaknya pak Lanang, seorang tokoh masyarakat setempat”, tuturnya.

Masih menurut WYA, praktik setoran fulus dalam pengurusan alat-alat itu nilainya mencapai puluhan hingga ratusan juta, tergantung besaran alsintan bantuan yang akan mengucur.

“Besarannya sekitar 15-20 persen dari nominal nilai alat bantuannya. Kalau mesin yang kecil setoran atau seserahannya Rp 8-10 juta. Alsintan besar semacam tracktor besar atau Combine Harvester yang harganya mencapai Rp 400-an juta, maka seserahannya sekitar Rp 80-100 juta,” katanya.

WYA melanjutkan, di Desa Balinggi Jati ada orang bernama I Made Edi yang saat ini ditengarai bakal menerima alsintan bantuan dengan modus memanfaatkan nama kelompok tani fiktif, dan bakal mendominasi penggunaan alsintan tersebut.

“Banyak yang penerimanya fiktif. Kelompoknya hanya dibuat nama, tapi aslinya tidak ada. Sebenarnya modus-modus seperti itu telah lama terjadi. Biasanya juga menggunakan nama kelompok tani, namun nama-nama anggotanya kerabat dan saudara semua,” bebernya.

Menurut WYA, I Made Edi ‘bermain’ dengan salah satu bekas anggota dewan Parimo, dan dudga telah setor fulus ke oknum-oknum di Dinas Provinsi Sulteng.

“Ada juga di wilayah Balinggi Jati, orang bernama I Made Edi. E di bermitra dengan bekas anggota dewan. Dan sepengetahuan saya, I Made Edi dan mitranya itu sudah kirim uang ke oknum di dinas provinsi untuk pencairan alat yang kedua, bulan Nopember 2019 ini”, jelas WYA.

Kemudian, kata WYA, di Desa Balinggi Kecamatan Balinggi, Parimo, ada lagi orang bernama Agus Raja juga diduga terlibat soal hal alsintan-alsintan bantuan itu.

Agus Raja, kata WYA, saat ini tengah menunggu proses pencairan alsintan yang juga akan menggelontor sekitar Nopember 2019.

“Agus Raja di Desa Balinggi juga ada itu pak. Pencairan alsintan bantuan pada Nopember 2019 juga. Agus Raja juga ikut mengurusi hal-hal demikian bagi wilayah lain. Untuk wilayah Luwuk, Kabupaten Banggai, ada empat unit combine harvester sepengetahuan saya sudah cair”, tutur WYA secara tertutup kepada Koran Indigo.

DALIH UPJA DAN MAHAL BIAYA RAWAT ALSINTAN

AGUS Subur disebut sebagai salah satu oknum terlibat dugaan penyalahgunaan alsintan membantah tudingan itu. Agus berdalih, terkait alsintan saat ini berada di ‘tangannya’ berjalan dikarenakan adanya Usaha Pelayanan Jasa Alsuntan (UPJA). Dan UPJA, kata Agus Subur, mempunyai anggota-anggotanya sendiri.

“Kan ada UPJA pak. UPJA ada anggotanya”, kata Agus Subur.

Namun Agus Subur hanya menjawab singkat dan masih enggan menjelaskan lebih detail combine harvester yang ia kelola itu.

Agus Raja asal Balinggi juga melontarkan bantahan terkait indikasi seleweng alsintan-alsintan bantuan itu. Bahkan Agus Raja mengaku tidak tahu-menahu terkait hal soal alsintan.

“Kalau memang saya pandai urus yang begitu (mendapatkan alsintan bantuan), mungkin kelompok saya (kelompok tani dimana Agus Raja bergabung), sudah punya alsintan bantuan. Namun, buktinya hingga saat ini tidak ada (tidak mempunya alsintan). Bahkan saya dengar alsintan-alsintan bantuan menuju Luwuk, Mamuju (Sulawesi Selatan) dan Provinsi Gorontalo”, jelas Agus Raja.

Agus Raja juga mengaku telah satu tahun lamanya dia dan kelompok taninya bermohon alsintan bantuan ke dinas (Dinas Parimo dan Sulteng) , namun hingga saat ini belum kunjung datang.

“Biar orang berkata apa pak, yang pastinya saya bermohon sudah satu tahun lamanya, tapi tidak ada. Hanya dijanjikan, tapi hingga saat ini alsintan tidak ada pak”, kata Agus Raja via ponsel cerdasnya.

Supriadi, salah satu Kepala UPTD Pertanian di wilayah selatan Parimo mengatakan, mungkin saja hal terkait mencuat soal dugaan penyalahgunaan alsintan bantuan, karena alsintan tersebut dikelola oleh Usaha Pelayanan Jasa alsintan (UPJA).

Kata Supriadi, sepengetahuan dirinya, saat ini alsintan bantuan di wilayah selatan Parimo sebagian sudah dihibahkan kepada kelompok tani. Sedangkan sebagian lagi masih dalam bentuk brigade.

“Kalau alsintan bantuan seperti combine harvester ada yang sudah dihibahkan kepada kelompok tani, ada juga masih bentuk brigade”, katanya.

Sedangkan alsintan dikelola UPJA, kata dia, memang sistem pelaksanaannya disewakan kepada petani. Sedangkan hasil dari penyewaan tersebut diperuntukkan bagi biaya perawatan.

“Jadi begini, adapun hasil sewanya (hasil sewa alsintan dikelola UPJA) itu dipergunakan untuk biaya perawatan, karena alsintan semua bentuknya brigade. Setahu saya alat mahal (combine harvester) seperti itu onderdilnya juga sangat mahal. Mengapa disewakan, sebab biasanya kelompok peminjam alsintan, begitu mengembalikan, banyak orderdilnya harus diganti.”, jelasnya.

“Maka dengan dana (hasil sewa dari para petani) itu dipergunakan untuk biaya perbaikan alsintan. Alat yang wilayah kerjanya di sawah, atau di lahan becek, pasti onderdilnya cepat juga kalah (rusak). Jangan samakan dgn alat-alat lain” jelasnya lagi. (tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close